Menggapai Kelebatan Hutan
Gunung Seribu Candi Argopuro

PROVINSI Jawa Timur memiliki keindahan alam, hutan, dan gunung yang memiliki jenis flora dan fauna yang bervarisi, misalnya Gunung Bromo Tengger Semeru, Raung, dan Arjuna Welirang. Salah satunya adalah Gunung Argopuro yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo.

Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Argopuro lebih mengenal Gunung Rengganis daripada Gunung Argopuro. Bremi merupakan desa yang masuk wilayah Kec. Krucil yang berada di baratlaut Gunung Argopuro. Masyarakatnya hidup beternak dan bertani kopi. Penduduk yang ramah seperti khasnya masyarakat pedesaan berbicara bahasa Madura. Dari desa terpencil ini terpendam bakat alam yang dimiliki masyarakat Bremi. Gapura-gapura yang menuju Desa Bremi dihiasai lukisan-lukisan alam yang cukup indah.

Pendaki harus melapor terlebih dahulu untuk meminta izin pendakian ke pos PHPA Argopuro dan pos Polisi Bremi. Pendakian dimulai dengan mengikuti sudut 120 derajat. Jam telah menunjukan pukul 13.00 WIB, rute pendakian pertama menuju Taman Hidup yang merupakan sebuah telaga yang sangat luas dengan hutan tropis yang lembab dan lebat. Sepanjang jalan menuju Taman Hidup, tampak penduduk yang sedang bekerja di perkebunan kopi. Perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya kami sampai di Taman Hidup dengan perjalanan menanjak.

Kami berdua mendirikan tenda di sekitar taman Hidup yang mulai diselimuti kabut dan hawa dingin Argopuro, tetapi secangkir kopi menghangatkan badan dalam hangatnya tenda di alam Argopuro, telaga, dan pohon-pohon yang mulai dibasahi kabut Argopuro, sejenak kami berpikir Tuhan janganlah alam Argopuro yang indah ini dirusak oleh angkuhnya manusia. Waktu berjalan, malampun mulai tiba.

tman-hdup.jpg

Cahaya rembulan menaburi alam memecah sunyi Taman Hidup dengan angin mengalir ramah datang dari lembah-lembah. Taman Hidup bergelimang cahaya rembulan. Bintang-bintang mewarnai mengelilingi bulan yang sinarnya menyemburkan romantisme di malam hari.

Malam semakin larut, dingin semakin menusuk sumsum. Angin malam makin menderu-deru mengalir bergelombang menyapa diri di Taman Hidup, seolah ingin berkata kepada kami, sebuah harapan yang telah kurindu.

Pukul 5.00 WIB kami bangun untuk mengambil air di Taman Hidup walaupun mata masih terasa mengantuk. Suara angin masih berembus saling bersahutan yang anginnya datang dari lembah-lembah di sekitar Taman Hidup. Matahari mulai terbit pertanda pagi mulai tiba. Kami pun mulai bersiap-siap untuk melanjutkan pendakian. Pukul 7.00 WIB kami segera melanjutkan perjalanan menuju Cisentor yang memiliki hutan yang bervariatif kerapatannya. Perjalanan yang sangat melelahkan melewati bukit-bukit pegunungan yang menguji fisik maupun mental kami , tetapi ini merupakan pendakian yang indah dan mengasyikkan. Burung-burung berkicauan dan suara binatang-binatang primata yang tinggal di hutan Argopuro sekali-kali bersahutan menyambut kedatangan kami di Cisentor. Dalam perjalanan menuju Cisentor kami menjumpai pohon penyengat (Girardinia Palmata) yang orang Sunda bilang pohon tareptep. tanpa gerak dan suara, dia langsung menyentuh dan mengejutkan dan dalam secepat kilat tiba-tiba kaget tersentuh kemudian merasakan perih dan panas menyengat menjalar bagian tubuh.

Dalam pendakian ke Gunung Argopuro dipastikan akan menemui pohon yang mengandung aliran listrik ini, kami berjalan sangat hati-hati. Selama 5 jam lebih akhirnya sampai di Cisentor, sejenak kami beristirahat sambil merebahkan badan. Kami mendirikan tenda. Tempat ini biasa disebut Cisentor yang merupakan pertemuan jalur Bremi dan Baderan Basuki. Aliran air yang datang dari puncak Argopuro menggoda kami untuk mandi. Seperti biasa kami memasak. Teh manis, kopi hangat, dan makanan kecil pun selalu menemani untuk menikmati malam yang indah di Cisentor.

Kabut yang terkuak oleh embusan angin yang membelah daun-daun pohon cemara membawa suhu dingin di Cisentor. Kami berdua mempersiapkan rencana pendakian ke puncak Rengganis esok pagi. Udara dingin di Cisentor dan hangatnya tenda dengan dekapan sleeping bag mengantar ke tempat peraduan.

Pukul 6.00 WIB cuaca yang cerah di Cisentor serta merdunya kicauan burung bernyanyi serta udara pagi yang jauh dari polusi membuat badan terasa segar. Seperti biasa kami sibuk dengan persiapan makan pagi. Sarapan pagi dengan secangkir teh manis terasa begitu manis seperti alam Argopuro. Suara-suara burung menemani sarapan pagi kami berdua.

Pukul 7.00 WIB pendakian dilanjutkan kembali menuju puncak Rengganis dengan tidak meninggalkan sampah. Suara-suara burung bersahutan mengantar kepergian kami meninggalkan Cisentor menuju puncak Rengganis yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai Ratu penguasa Gunung Argopuro. Jalan menuju puncak Rengganis ditumbuhi pohon Edelweiss yang tumbuh mekar menggoda kami untuk mengabdikannya, batu-batu besar, dan tumbuhan cemara gunung mendominasi areal sekitar jalanan menuju puncak. Melewati punggung dan lembahan serta vegetasi yang didominasi Edelweiss dan cemara gunung menambah keindahan Gunung Argopuro yang masih perawan.

Kami melewati sebuah rawa yang disebut Rawa Embik, konon pada masa Kerajaan Sriwijaya, dataran berair dan dipenuhi bunga Edelweiss ini merupakan tempat kebutuhan hidup Ratu Rengganis, selir Prabu Brawijaya dan pengikutnya yang menyepi di Gunung Argopuro. Kami melihat sepasang burung merak yang sedang mencari makan ketika kami lewat. Tampak puncak Rengganis muncul di antara bunga-bunga Edelweiss dan pohon-pohon cemara gunung yang menutupi perjalanan kami.

puncak-rengganis.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dua jam lebih akhirnya kami berdua dapat mencapai puncak gunung seribu candi. Di puncak gunung ini tampak terdapat banyak struktur bangunan mirip pura (tempat peribadatan agama Hindu) walaupun kondisinya sudah tidak utuh lagi. Sejum lah arca telah terpencar di daerah pegunungan luas ini. Kabut misteri ini membuktikan bahwa bangsa kita ini sejak dahulu berilmu dan berbudaya. Pemandangan yang indah di puncak gunung ini lebih mendekatkan pada Sang Pencipta. Setelah mengambil beberapa dokumentasi foto, kami berdua turun meninggalkan puncak Rengganis yang begitu manis.

Dalam perjalanan turun mengikuti jalan setapak menuju Cisentor, lintasan-lintasan tertutup pohon cemara Edelweiss. Dengan jalan menuruni bukit, akhinrya kami sampai di Cisentor. Aliran sungai yang jernih sejenak menunda gerak langkah kami untuk sekadar istirahat dan membersihkan diri. Setelah beristirahat, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Taman Hidup. Kami menjumpai empat ekor rusa yang sedang makan, melihat kami datang rusa-rusa pergi menjauhi. Tak terasa waktu sudah masuk sore. Kabut dingin Argopuro mulai membasahi perjalanan kami ke Taman Hidup. Akhirnya kami sampai ke Taman Hidup yang mulai gelap ditutupi kabut. Seperti biasa kami mendirikan tenda dan masak. Tampak langit Argopuro kelihatan murung, kabut-kabut menutupi pemandangan di sekcikasur.jpgitarnya seakan enggan melepas kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 6.00 WIB kami meninggalkan Taman Hidup, burung-burung berkicau dan pohon-pohon melambai-lambai seakan berat tuk melepas kami. Kami menyisiri Gunung Gendeng dari Taman Hidup tidak melewati jalur ketika mendaki dari Bremi. Naik turun perbukitan dan lembah merupakan suatu pengalaman yang menguji mental maupun fisik. Akhirnya kami sampai ke Desa Bremi. Aliran sungai yang berasal dari puncak Gunung Argopuro, menggoda kami untuk beristirahat sambil membersihkan badan.

Kami meninggalkan misteri gunung seribu candi menu Surabaya. Tampak puncak Argopuro melambai-lambai melepas kepergian kami. Sejuta kenangan telah tercipta bersamamu. Pukul 5.30 WIB kami meninggalkan Surabaya menuju Bandung. Semoga suatu saat kami bisa merasakan dan meraihmu kembali. (Budi) ***