Ibnu Hajar, Budayawan

DALAM sejarah orang Madura belum dikenal istilah carok massal. Sebab, carok adalah duel satu lawan satu seperti aksi perang koboi di Las Vegas, dan ada kesepakatan sebelumnya untuk melakukan duel. Bahkan disertai ritual-ritual tertentu sebagai persiapan menjelang carok.

Kedua belah pihak pelaku carok, sebelumnya sama-sama mendapat restu dari keluarga masing-masing. Karenanya, sebelum hari H duel maut bersenjata celurit dilakukan, di rumahnya diselenggarakan selamatan, pembekalan, pengajian, dan lainnya. Oleh keluarganya, pelaku carok sudah dipersiapkan dan diikhlaskan untuk terbunuh.

Ketika media massa memberitakan tentang carok massal, saya tidak sepakat dengan istilah itu. Yang terjadi di Desa Bajur Tengah bukanlah dikategorikan carok, tapi tawuran massal, kerena tidak sesuai dengan arti carok sebenarnya.

Carok adalah sebuah pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta, dan wanita. Intinya adalah demi kehormatan,” papar Ibnu Hajar, budayawan Sumenep.

Sebenarnya budaya carok yang sudah menjadi ikon bagi orang Madura, sampai detik ini masih belum jelas asal-muasalnya. Berdasarkan legenda rakyat, adalah bermula dari perkelahian antara Pak Sakera dengan dua bersaudara, Markasan dan Manbakri, yang antek-antek Belanda.

Senjata Pak Sakera adalah celurit. Karenanya, setiap perkelahian bersenjatakan celurit, untuk gambangnya dinamai carok.“Tapi saya punya asumsi, istilah carok lebih kental dipengaruhi budaya Jawa masa kerajaan Singasari. Di mana waktu itu Ken Arok yang merebut kekuasaan membunuh Akuwuh Singasari, Tunggul Ametung, kemudian ia mengawini istrinya, Ken Dedes. Kendati sebelumnya mendapat kutukan bahwa keturunannya akan saling membunuh sampai tujuh turunan.

Istilah carok sendiri hampir sama dengan kata Ken Arok,” ujar Ibnu Hajar. “Bagi saya sebagai orang Madura, tidak bangga dengan budaya carok, tapi ini adalah sebuah kenyataan tentang budaya kita dan budaya carok sangatlah adiluhung.

Carok menunjukkan sikap gentlemen orang Madura dalam membela harga dirinya dan memenuhi tanggung jawabnya. Meski ini bukanlah wujud pembenaran dalam sarkasme carok itu sendiri,” imbuh Hajar. Adapun pepatah yang mengatakan, etembeng pote mata lebih bagus pote tolang yang menjadi motivasi untuk melakukan carok, seharusnya tidak dipahami secara eksklusif, karena setiap orang — dimana saja tidak hanya orang Madura — punya pemahaman yang sama untuk membela harga dirinya, kebetulan kita mempunyai budaya carok.

Sekali lagi harus diluruskan bahwa tidak ada istilah carok massal, karena carok dilakukan dengan adanya kesepakatan satu lawan satu dan tidak boleh ada yang mengganggu di saat duel, siapa yang mati harus menerima, dan anak-anaknya harus membalasnya sampai tujuh turunan.

Senjata Celurit

Sejarah tentang carok selalu diindentikkan dengan celurit yang sampai saat ini masih menjadi ciri khas orang Madura. Keberadaan celurit punya makna filosofi di mata orang Madura, ini bisa dilihat dari bentuknya yang seperti tanda tanya, itu menunjukkan bahwa orang Madura selalu tidak puas terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

 

Kebiasaan orang Madura ketika membawa celurit selalu diletakkan di pinggang samping kiri, karena menurut orang Madura tradisi seperti itu sebagai upaya pembelaan harga diri laki-laki di Madura, dan sebagai pelengkap karena tulang rusuknya laki-laki kurang satu. Makanya orang Madura menggunakan celurit untuk melengkapi tulang rusuknya yang kurang satu.

 

Celurit untuk membela istri, harta, dan tahta ketika digangu orang lain, dan orang laki-laki Madura belum lengkap tanpa celurit.Keberadaan orang Madura sebagai orang tegalan yang tandus dan gersang, membuat mereka merasa kecil dan rendah hati sebagai orang yang jauh dari pusat kekuasaan Singasari pada waktu itu.

 

Makanya kita sering mendengar sekarang, jika orang Madura akan pergi ke Jawa ia bilang ongke’eh (naik) dan jika pulang ke Madura bilang toronah (turun) ini menujukkan bahwa orang Madura selalu merasa rendah diri.