Oleh Andreas Harsono

CAMBRIDGE — Akhir November lalu saya bertemu dengan seorang wartawan penerbitan Hongkong yang bekerja di Singapura. Dia mengajak makan malam dan bertanya apa untungnya mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat.Ketemunya di sebuah cafe di Harvard Square, di pusat kota Cambridge, beberapa saat setelah saya ikut kuliah di Universitas Harvard.Saya jawab kalau enaknya mungkin tidak perlu dikatakan. Banyak sekali. Tapi justru tidak enaknya yang perlu didaftar. Dia tertawa. Calon isterinya juga tersipu-sipu. Kami memesan makan malam kami. John Harvard Cafe mulai penuh dengan orang.

“Apa tidak enaknya?” ujar teman wartawan ini.

Mungkin yang paling tak enak adalah pertanyaan apakah kita bisa dengan mudah beradaptasi dengan tempat di mana kita bekerja kelak setelah pulang. Jangan-jangan kita malah jadi tukang bikin onar.

Setelah sekolah setahun di tempat yang serba wah, mungkin kita bakal punya anggapan bahwa nilai-nilai yang dulu kita anggap biasa, sekarang sulit untuk diterima orang lain. Sederhananya, kita bisa kehilangan orientasi, kita bisa salah menilai diri kita sendiri.

Seorang wartawan senior di Indonesia mengatakan kita bisa jadi “spoiled brat” –seorang anak manja dan kepribadiannya tidak menyerangkan.
“Kalau Anda pikir bahwa lembaga Anda akan menghargai waktu yang Anda investasikan di sini dan menghargai Anda, saya kuatir Anda salah,” ujar Chris Hedges dari The New York Times.

Bukan itu saja. Beasiswa buat wartawan juga bisa menimbulkan ketegangan dalam perkawinan sang penerimanya. Logikanya sederhana. Sang wartawan sekolah lagi, ikut seminar, bertemu profesor, baca buku, mengasah otak, sementara si istri atau di pacar mungkin harus eninggalkan karirnya, lalu sibuk mengurus anak, memasak, tinggal di apartemen yang sempit dan hidup dengan dana terbatas. Hidup tidak senyaman di Indonesia.

Saya beri contoh pada program yang saya ikuti. Pada dekade-dekade awal berdirinya Nieman Fellowship, program beasiswa ini bukan saja meningkatkan mutu para pesertanya tapi juga menghasilkan banyak perceraian. Pilihannya memang sulit. Keluarga ditinggal di rumah susah. Dibawa sekolah juga susah.

Namun Nieman Foundation memperbaiki diri dalam sepuluh tahun terakhir ini dengan melibatkan para istri. Semua program untuk peserta dinyatakan terbuka buat pasangan mereka. Para istri juga diberi kartu perpustakaan untuk meminjam buku dari perpustakaan raksasa Harvard.

Namun enaknya juga banyak. Umumnya program-program beasiswa buat wartawan yang diberikan di Amerika Serikat menekankan unsur human development. Mulai dari Nieman Fellowship di Harvard hingga Knight Fellowship di Universitas Stanford, dari yang tidak pakai gelar hingga yang bergelar, dari yang empat bulan hingga yang setahun, tujuannya sama: membuat wartawan menjadi wartawan yang lebih baik.

Nieman, Knight dan Michigan Journalism Fellowship memberikan kebebasan kepada fellow (peserta) mereka untuk ikut kuliah dua semester di universitas masing-masing. Kuliah didisain sesuai kebutuhan peserta. Yang suka masalah politik bisa kuliah pemerintahan. Tapi ada juga jurusan hukum, kedokteran, ekonomi, seni, biologi, filsafat dan lain-lain.

Di Cambridge kami setiap minggu sekali wajib mengikuti diskusi internal tentang jurnalisme di Nieman Foundation. Peserta merasa banyak belajar mengenai jurnalisme justru lewat diskusi-diskusi ini. Kemampuan mereka untuk membedakan mana yang adil, mana yang benar, mana yang etis dan mana yang berita, digenjot dan dipertajam setiap minggu oleh kurator Nieman Foundation Bill Kovach. Wartawan kawakan dari The New York Times ini selalu menekankan pentingnya menjaga integritas wartawan. Kovach mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai jurnalisme.

Indonesia butuh lebih banyak wartawan

Saya jelaskan kepada teman dari Singapura itu, alangkah baiknya, kalau lebih banyak wartawan Indonesia yang juga mau mencari beasiswa. Dalam era pasca-Presiden Suharto, wartawan Indonesia tidak bisa terlalu mempertimbangkan faktor tidak enak. Kebebasan pers di Indonesia perlu cepat-cepat diperkuat antara lain dengan mengembangkan kemampuan jurnalisme dan memperbanyak jumlah wartawan yang memperdalam ilmunya.

Dalam dua tahun ini di Indonesia mungkin ada lebih dari 1,000 penerbitan baru. Radio-radio berlomba-lomba bikin berita. Televisi sedang menambah jumlah stasiunnya. Pemain baru juga muncul lewat internet. Lapangan kerja tercipta dengan cepat. Industri media bergeliat dengan penuh gairah.

Tapi sumber daya manusia di bidang media sangat terbatas. Banyak media baru tapi sedikit wartawan. Redaktur juga banyak yang tidak memenuhi syarat. Lembaga pendidikan kurang siap. Di Indonesia hanya ada beberapa perguruan tinggi yang punya jurusan jurnalisme: Universitas Pajajaran Bandung, IISIP Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Surabaya.

Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, wartawan Indonesia juga termasuk ketinggalan dalam mencari beasiswa. Ambil contoh Nieman Foundation di Universitas Harvard. Indonesia sejak program ini berdiri 1938 hanya memiliki tiga alumni: Sabam Siagian (The Jakarta Post), Goenawan Mohamad (Tempo) dan Ratih Hardjono (Kompas).

Coba kita bandingkan dengan Jepang (26), India (17) dan Cina (14). Atau kalau mau dibandingkan dengan negara-negara Asia yang lebih kecil: Korea Selatan (19), Filipina (11), Malaysia (4) dan Thailand (4). Indonesia hanya lebih tinggi dari Vietnam (2) dan Singapura (1).

Bagaimana mendapatkannya?

Beasiswa ini macam-macam. Ada yang program satu tahun, ada yang pertukaran wartawan, ada hibah buat proyek tertentu, ada waktu buat menulis dan lain-lain. Syaratnya juga beda-beda. Untuk wartawan muda. Untuk paruh karir. Ada yang umum namun ada pula untuk wartawan spesialis: bisnis, lingkungan hidup, olah raga, kesehatan, ilmu pengetahuan dan lainnya. Di Amerika Serikat mungkin ada lebih dari 300 program beasiswa buat wartawan.

Teman dari Singapura itu bertanya bagaimana strategi mendapatkan beasiswa? Bagaimana cara membuat proposalnya? Mungkin untuk wartawan Indonesia di mana bahasa Inggris bukan merupakan bahasa ibu perlu ditambah dengan pertanyaan seberapa jauh kemampuan bahasa Inggris diperlukan?

Boleh jadi pendekatan mendapatkan beasiswa yang baik sama dengan cara kita mendekati suatu berita. Kita tahu di luar kepala bahwa kita wajib memperhatikan unsur 5W 1H (what, who, why, where, when, how). Lebih banyak detail yang didapat lebih baik. Kalau seorang wartawan datang ke sebuah lokasi, ia diharapkan untuk memperhatikan dari jenis lantai hingga warna dinding lokasi tersebut. Keterangan waktu selalu dicek ulang. Ejaan nama jangan salah!

Mendapatkan beasiswa juga demikian. Kita harus tahu siapa yang terlibat dalam proses penyaringannya? Siapa orang-orang yang bisa kita mintai rekomendasi hingga orang-orang yang duduk dalam tim seleksi. Apa tujuan lembaga pendidikan tersebut mengeluarkan beasiswa? Bagaimana proses seleksinya? Di mana dan berapa lama beasiswa itu diberikan? Apa saja syarat-syaratnya? Buat yang muda atau buat yang paruh-karir?

Bikin riset yang kuat. Pergunakan internet. Semua program buat wartawan, boleh percaya boleh tidak, bisa didapatkan syarat-syarat bahkan formulirnya lewat internet. Ada program yang tidak menyediakan dana buat para peserta.
Tapi kebanyakan mereka membantu peserta yang lolos untuk mendapatkan dana. Besarnya antara $25,000 hingga $60,000 setahun tergantung lokasi dan biaya hidup. Sediakan waktu yang cukup, katakanlah setahun, untuk mempersiapkan proposal.

Soal bahasa Inggris, Kovach mengatakan bahwa kita toh tidak diharapkan menulis (secara profesional) dalam bahasa Inggris. Kovach bahkan tidak menganjurkan peserta Nieman untuk belajar bahasa apapun ketika mereka ada di Harvard. “Anda bisa belajar bahasa di mana pun tapi tidak semua kuliah di Harvard bisa Anda dapatkan di tempat lain,” ujar Kovach.

Mungkin ukurannya adalah kemampuan kita untuk berdebat atau membuat laporan dalam bahasa Inggris. Atau setidaknya kita bisa mengerti kuliah profesor kita walaupun sedang mengantuk berat karena semalam begadang. Jangan lupa bahwa mayoritas teman kelas kita adalah orang Amerika dan mereka bicara bahasa Inggris sejak bayi!

Rekomendasi biasanya memainkan peran penting. Kalau Anda mendapatkan rekomendasi dari wartawan-wartawan Indonesia yang pada jaman Presiden Suharto ikut bertanggungjawab atas penindasan pers, kemungkinannya rekomendasi itu hanya berlaku untuk lembaga-lembaga pendidikan yang kurang begitu baik. Tapi kalau rekomendasi datang dari wartawan asing maupun Indonesia yang punya nama harum, setidaknya itu sudah menjadi bekal yang bagus agar lamaran Anda diperhatikan.

Tapi bagaimana pun bagusnya surat lamaran Anda, sebagai wartawan, kita harus ingat hukum penting dalam jurnalisme: fairness. Kita harus fair terhadap lembaga di mana kita melamar dan juga fair terhadap diri kita sendiri. Ada self-respect terhadap diri sendiri.

Ketika saya hendak mengirimkan lamaran, saya sempat diberitahu seorang rekan di Jakarta bahwa program-program yang saya incar di Amerika Serikat adalah fellowship buat wartawan-wartawan yang “lebih senior.” Saya termasuk junior kalau dibanding dengan Siagian, Goenawan atau Hardjono. Sempat grogi juga.

Tapi saya putuskan untuk mempelajari usia atau karir alumni program-program tersebut. Ternyata dalam sejarah Nieman Fellowships ada seorang peserta yang umurnya baru 22 tahun! Saya jauh lebih tua dari peserta tersebut. Saya juga perhatikan peserta dari negara-negara lain. Ternyata banyak yang usianya atau karirnya setara dengan saya.

Tak terasa sudah dua jam kami bicara. Sayap ayam masak kecap kami lahap dengan cepat. Sebelum kami meninggalkan John Harvard Cafe, teman wartawan itu dengan hangat mengucapkan terima kasih. Ia merasa yakin bahwa ia memang harus mengejar beasiswa itu. Saya juga senang karena telah membantunya. Mudah-mudahan saya juga bisa membantu wartawan-wartawan lain di Indonesia.

Di luar udara dingin sekali. Musim dingin mulai menggigit tulang.

*) Andreas Harsono adalah wartawan freelance yang juga duduk di kepengurusan Institut Studi Arus Informasi (Jakarta). Ia sekarang mendapatkan Nieman Fellowship di Harvard.