Pengertian Jurnalistik bermula dari kata Journal (catatan harian atau catatan peristiwa sehari-hari). Pengertian jurnalistik tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja kepenulisan dan produksi berita. Jurnalistik bisa diartikan sebagai ilmu dan bidang kajian mengenai pengemasan informasi dengan menggunakan  media massa.

Sebagai ilmu dan bidang kajian, jurnalistik masuk dalam cakupan bidang komunikasi. Biasanya di dunia akademik perguruan tinggi, ilmu jurnalistik menjadi bagian dari fakultas komunikasi.

Tahapan Kerja Jurnalistik

Rapat Redaksi — Peliputan/ Pengumpulan sumber berita — Penulisan — Penyuntingan — Penyiaran/ Publikasi

Dasar-Dasar Jurnalistik Bagi Calon Wartawan

Wartawan adalah pekerja jurnalistik. Peran wartawan begitu penting dalam pencapaian karya jurnalistik. Ibaratnya, wartawan adalah “darah daging” jurnalistik. Tanpa wartawan, berarti tidak ada karya jurnalistik.

Karena jurnalistik adalah proses kerja yang berhubungan dengan peliputan, pengumpulan bahan berita, kemudian penulisan berita, seorang wartawan harus memiliki kemampuan dasar menangani pekerjaan tersebut.

Setidaknya wartawan harus punya bekal kemampuan dasar ilmu komunikasi, memiliki jaringan narasumber berita, terampil mewawancara dan menulis. Sebagai tambahan, seorang wartawan media cetak setidaknya bisa mengoperasikan kamera foto.

Wartawan televisi harus memiliki kemampuan dasar mengoperasikan kamera gambar bergerak, serta terampil berkomunikasi di depan kamera untuk melaporkan secara langsung (live).

Sedangkan wartawan media radio, selain terampil berkomunikasi via saluran telepon untuk melaporkan kejadian, dia juga setidaknya punya kemampuan dasar sebagai penyiar.

Tips Bagi Calon Jurnalis

Menjadi jurnalis gampang-gampang susah. Disebut gampang karena sekarang ini makin banyak sekolah dan pelatihan dengan konsentrasi kewartawanan. Selain itu, seoraang yang ingin menjadi jurnalis, tidak melulu harus lulusan perguruan tinggi dari jurusan jurnalistik dan ilmu komunikasi.

Siapa pun bisa menjadi jurnalis, asalkan memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang kerja jurnalistik. Disebut susah, karena setiap perusahaan penerbitan pers memberlakukan syarat dan aturan yang berbeda-beda untuk merekrut calon jurnalis.

Misalnya perusahaan pers A membutuhkan jurnalis yang memiliki wawasan di bidang hiburan, padahal Si pelamar tidak menyukai dunia hiburan. Begitu juga perusahaan pers B membutuhkan calon jurnalis yang sudah berpengalaman aktif di media, setidaknya media kampus, padahal Si pelamar sama sekali tak pernah aktif dalam pers kampus meskipun dia lulusan jurnalistik.

Demikian pula perusahaan pers C membutuhkan calon jurnalis yang menguasai bahasa tertentu, misalnya bahasa mandarin karena orientasinya untuk peliputan bisnis dan sasaran pembaca Tionghoa.

Nah, agar calon jurnalis siap menghadapi sejumlah hambatan atau kesulitan di dunia jurnalistik, berikut adalah tips-tips yang setidaknya bisa mengatasi hambatan dan kesulitan itu.

Banyak Membaca

Dengan banyak membaca, calon jurnalis bisa mendapatkan banyak wawasan apa saja yang akan membantu dalam penulisan berita, terutama dari aspek perbendaharaan kata, akurasi data, dan kelancaran dalam merangkai kata-kata.

Berlatih Menulis

Cobalah sesering mungkin menulis apa saja, baik dalam bentuk diary, cerita pendek, puisi, maupun catatan perjalanan. Hal ini secara otomatis akan menjadi kesenangan tersendiri apabila suatu saat ditugaskan untuk menulis dalam bentuk berita.

Penasaran

Seorang wartawan dituntut harus punya rasa kepenasaran yang tinggi (high curiousity). Karenanya, membiasakan diri ingin mengetahui informasi sedalam mungkin pada suatu kejadian adalah hal yang bisa memancing berpikir kritis pada apapun yang kita lihat, dengar, dan rasakan.

Ciptakan Jaringan Komunikasi Sosial

Wartawan yang andal adalah orang yang pandai bergaul dengan siapa saja. Dia bisa berkomunikasi dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan informasi. Untuk itulah, calon wartawan sedini mungkin bisa menciptakan jaringan komunikasi sosial, misalnya mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya di facebook atau twiter.

Percaya Diri

Rasa percaya diri bisa dipupuk sendiri, tanpa harus bantuan orang lain. Caranya, sekali-kali cobalah Anda berlatih menjadi presenter di hadapan teman atau keluarga. Selain itu, Anda  bisa juga pura-pura mengorek informasi kepada seseorang, misalnya kepada tukang baso.

Tanyakan saja sambil basa-basi mengenai pembuatan baso, asal dari mana, habis dagangan biasanya jam berapa. Latihan seperti ini nantinya akan membantu Anda ketika jadi wartawan dalam hal menghadapi narasumber yang populer atau disegani.

Sumber